How to unlock Celery Salt Foursquare Badge. seperti yang kita ketahui badge ini masih sodara kandung dari badge Chicago Blues yang cara unlocknya sudah saya tulis diartikel sebelumnya. Nah cara ...Read more

Tentang Astaga!com, Astaga naga!

Ada email dari teman yang bercerita tentang Astaga!com dimasa lalu. Silahkan simak artikelnya, pada bagian akhir saya juga menambahkan sedikit sebagai pelengkap, dan ada beberapa bagian yang saya edit. And the story goes… Pada 2001, Astaga!com menggebrak dunia dotcom untuk memudahkan sebutan situs internet, yang secara faktual ada juga di org, biz, dan seterusnya Indonesia, dengan berbagai iklan di media massa. Billboardnya di jalanan Jakarta, terpampang besar-besar. Logo Astaga kala itu, dengan huruf berlatar laksana pecahan telur bagaikan cat kental meleleh, seakan masih lekat dalam ingatan.

Astaga1

Adalah Jonathan Morris, anak muda asal Amerika Serikat yang memotori situs itu. Ia membangun portal berita dan gaya hidup. Publik diharapkan mengenal Astaga.com dalam tenggang waktu yang singkat dan segera dapat di-initial public-offer-kan, atau go public. Morris sebagai pendiri tidak tanggung-tanggung, menabalkan Astaga IPO di bursa Nasdaq, New York. Edun euy…

Apa lacur cita-cita boleh saja dan berikhtiar pun boleh sekuat tenaga, kenyataan berkata lain. Kendati telah merekrut orang-orang yang dikenal di media, seperti Hary Surjadi, sebelumnya berkerja di Kompas, Desi Anwar kala itu direkrut di saat masih di RCTI dan kini di Metro TV, Astaga.com, memang mengagetkan.

Bukan kaget akan prestasinya pasti, melainkan kemudian justru berita miss manajemen Astaga yang ada. Astaga konon telah menghabiskan setidaknya US $ 10 juta. Jonathan Morris kemudian tidak mendapatkan tambahan modal. Ia pun keluar dari usaha yang dibangunnya itu dan mendirikan GlobalTech.com, perusahaan jasa solusi IT, menjadi konsultan untuk perbankan. Seingat saya, GlobalTech memiliki klien Bank Mandiri, serta beberapa bank BUMN lain kala itu.

” Suatu siang di gedung perkantoran di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat, saya ingin menemui Morris, medio 2002. Kala itu saya sedang dalam mereportase panjang, menulis tentang Astaga untuk PANTAU majalah kajian media dan jurnalisme kini tidak terbit lagi. Di luar dugaan saya mendapati ruangan kantor GlobalTech, sudah dirantai dan digembok. Ada apa? Saya menanyakan kepada building manager. Rupanya, perusahaan itu tutup, dengan meninggalkan hutang sewa kantor. Lebih celaka, pesangon karyawannya banyak yang belum dibayar.

Tahu bahwa saya kala itu jurnalis, beberapa staf Morris, kemudian ada yang berkumpul di ruang kosong di sebelah kantor mereka yang sudah terkunci itu. Mereka curhat kepada saya. Saya kemudian sempat mengejar Morris yang dikabarkan sedang menuju Bandara meninggalkan Indonesia. Padahal tiga hari sebelumnya, saya masih menerima balasan email Morris, untuk kesediaan mewawancarainya ihwal Astaga.com.”

Di bawah ini adalah salah satu tulisan yang saya temukan tentang Astaga dari Portal Watch, yang mungkin dapat dijadikan masukan untuk pengembang Astaga. ( termasuk saya donk berarti heheheh ) – baidewei thx atas kritiknya.

Astaga!com adalah portal yang pernah besar pada era keemasan dotcom. Pada masa itu Astaga!com adalah leader didunia perportalan Indonesia. Banyak sekali pengguna layanan dari Astaga!com ini pada masa tersebut, sebutlah salah satunya adalah email service, dulu rasanya kurang gaul kalau tidak  pakai email Astaga!com. Tapi sayang seribu sayang apa yang terjadi sekarang menjadi kebalikannya, Astaga!com terpuruk dan terlempar dari posisi 100 besar website Indonesia ( data Alexa.com ).

Jika dianalisa mungkin Astaga!com mengalami masa surut seperti sekarang ini karena ditinggal oleh punggawa – punggawa pentingnya, gosip yang beredar banyak punggawanya yang hijrah ke portal – portal lain seperti Detik, Kapanlagi. Sayang sekali padahal mereka yang pada masa itu berhasil menaikan kasta Astaga!com menjadi menjadi pemimpin dunia maya Indonesia.

Jika memperhatikan portal Astaga memang terlihat seperti ada kegiatan untuk memperbaiki tampilannya, berdasarkan pengamatan saya dalam 2 tahun terakhir Astaga sudah berubah dua kali tampilannya. Perubahan yang terlihat memang masih dari segi tampilan saja, belum menyentuh konten. Terlihat jelas Astaga yang sekarang masih miskin konten. Berita yang disajikanpun tak jarang hasil translate dari berbagai situs luar negeri. Navigasi diportal Astaga sendiri tergolong tidak user friendly, banyak link yang membingungkan. Selain itu artikel – artikel yang muncul juga kurang menarik layoutnya. Kadang kala image yang ada disamping artikel terlihat kedodoran jika dibandingkan dengan summary artikelnya yang sedikit. Terlihat tidak balance.

Sisi lain yang kadang kala membuat malas adalah banyaknya komentar spam dan komentar dengan bahasa yang kasar, wah kemana nih adminnya? koq tidak difilter atau di maintenace?

Mudah – mudahan tim Astaga dapat memperbaiki lagi portalnya, sehingga persaingan portal di Indonesia akan lebih semarak lagi.

Begitulah, Astaga, sesuai dengan namanya, memang kemudian membuat mulut berucap Astaga kepadanya. Well, dukungan dana gila – gilaan tidak akan menjamin sebuah portal akan menghasilkan seperti yang diharapkan. Saya sampai saat ini tetap percaya bahwa ” sekali kita bicara soal portal, maka kita akan bicara konten, jika konten tidak menarik, jangan harap akan survive”

Apakah teman – teman punya analisa sendiri, silahkan isi di form komentar, jangan malu apalagi ragu yach..lolz

Digg it StumbleUpon del.icio.us Google Yahoo! reddit

  1. Hamba Allah
    September 16th, 2009 - 14:17

    ah nyang benar tuh, tim redaksi sudah dirombak. beberapa kali saya kunjungi astaga lama, pemilihan berita, angle tulisan, dan news value-nya kacau balau. Apakah mereka (reporter lama) sering mendapat pelatihan jurnalistik?

    Reporter astaga mau main berita di sisi aktualitas (skor 8-0 lawan detik, kompas, okezone, vivanews, kapanlagi, inilah), kalah jauh men.

    Angle tulisan yang dipilih juga tidak jauh beda dengan portal lain, tidak berani mencoba mengambil berita dari angle lain.

    Beritanya kebanyakan advertorial ya, cenderung mempromosikan suatu kegiatan perusahaan, apa itu memang advertorial atau tulisan sekedar mengisi kekosongan astaga.

    saya, sedikit ngerti jurnalistik menganggap tulisan yang tampil bukan berita. (berita untuk media itu fakta, wartawan hanya menguraikan fakta, wartawan tidak boleh beropini). Menganggap artikel, kurang menarik, karena angelnya basi.

    coba deh (reporter) bikin aja berita empat paragraf tapi isi faktanya padat (istilahnya bedaging), ketimbang nulis puluhan paragraf tapi gak jelas juntrungannya.

    Btw, ditunggu the new astaga!-nya

    • Planet Orange
      September 16th, 2009 - 14:23

      Hahaha…. i know who you are :mrgreen: kyknya….hehehehe…..

  2. Tomi
    September 17th, 2009 - 08:55

    :-/

Leave a Reply